Anatomi sistem urinaria
Wednesday, May 20, 2015
0
comments
A. Pengertian
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana
terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang
tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh
tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih).
B. Komponen
system urinaria
System
urinaria terdiri dari dua ginjal yang memproduksi urin, dua ureter yang membawa
urin menuju kandung kemih untuk penampungan sementara dan uretra yang
mengalirkan urin keluar tubuh melalui orifisium uretra eksterna.

Gambar 1 sistem
urinaria
C. Ginjal
1. Anatomi
ginjal
a. Bentuk
ginjal

Gambar 2 penampang ginjal
Ginjal
adalah organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya sekitar
12,5 cm (kurang lebih seberar kepalan tangan). Setiap ginjal memiliki berat
antara 125-175 g pada laki-laki dan 115-155 g pada perempuan.
b. Lokasi
Ginjal
terletak diarea yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang berdekatan
dengan dua pasang iga terakhir. Ginjal merupakan organ retroperitoneal karena
terletak diluar peritoneum dan berada diantara otot-otot punggung dan
peritoneum rongga abdomen atas. Tiap-tiap ginjal memiliki sebuah kelenjar
adrenal diatasnya. Ginjal kanan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan
ginjal kiri karena pada sisi kanan tubuh terdapat organ hati.
c. Jaringan
ikat pembungkus ginjal
Setiap
ginjal diselubungi oleh tiga lapisan jaringan ikat, yaitu:
1) Fasia
renalis adalah pembungkus ginjal terluar. Pembungkus ini melabuhkan ginjal pada
struktur disekitarnya dan mempertahankan posisi organ.
2) Lemak
perirenal adalah jaringan adipose yang terbungkus fasia renalis. Jaringan ini
membantali ginjal dan membantu ginjal agar tetap pada posisinya.
3) Kapsul
fibrosa (ginjal) adalah membrane halus transparan yang langsung membungkus
ginjal dan dapat dengan mudah dilepas.
d. Struktur
internal ginjal

Gambar 3 potongan ginjal
1) Hilus
tingkat kecekungan tepi pada ginjal
2) Sinus
ginjal adalah rongga berisi lemak yang membuka pada hilus. Sinus ini membentuk
perlekatan untuk jalan masuk dan keluar ureter, vena dan arteri renalism serta
saraf dan limfatik.
3) Pelvis
renalis adalah perluasan ujung proksimal ureter. Ujung ini berlanjut menjadi
dua sampai tiga kaliks mayor, yaitu rongga yang mencapai glandular, bagian
penghasil urin pada ginjal. Setiap kaliks mayor bercabang menjadi 8-18 kaliks
minor.
4) Parenkim
ginjal adalah jaringan ginjal yang menyelubungi struktur sinus ginjal. Jaringan
ini terbagi menjadi dua yaitu medulla dan korteks.
a) Medulla
terdiri dari massa-massa triangular (berbentuk segitiga) yang disebut piramida
renalis. Ujung yang sempit dari setiap piramida, papilla, masuk dengan pas
dengan kaliks minor dan ditembus mulut duktus pengumpul urin.
b) Korteks
tersusun dari tubulus dan pembuluh darah nefron yang merupakan unit structural
dan fungsional ginjal. Korteks terletak didalam diantara piramida-piramida
medulla yang bersebelahan untuk membentuk kolunma renalis yang terdiri dari
tubulus-tubulus pengumpul yang mengalir kedalah duktus pengumpul.
5) Lobus
ginjal, ginjal terbagi-bagi lagi menjadi beberapa lobus. Setiap lobus terdiri
dari satu piramida ginjal, kolumna yang saling berdekatan dan jaringan korteks
yang melapisinya.
e. Struktur
nefron

Gambar 4 struktur nefron
Satu
ginjal mengandung 1-4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urin. Setiap
nefron memiliki satu komponen vaskuler (kapiler) dan satu komponen tubuler.
1) Glomerulus
adalah gulungan gulungan kapiler yang dikelilingi kapsul epitel berdinding
ganda disebut kapsula bowman. Glomerulus dan kapsul bowman bersama-sama
menbentuk kospuskel ginjal.
a) Lapisan
visceral kapsul bowman adalah lapisan internal epithelium. Sel-sel lapisan
visceral dimodifikasi menjadi podosit (sel seperti kaki) yaitu sel-sel epitel
khusus disekitar kapiler glomerular. Setiap sel podosit melekat pada permukaan
luar kapiler glomerular melalui beberapa prosesus promer panjang yang
mengandung prosesus sekunder yang disebut prosesus kaki atau pedikel (kaki
kecil). Pedikel berinterdigitasi (saling mengunci) dengan prosesus yang sama
dari podosit tetangga. Ruang sempit antar pedikel-pedikel yang berinterdigitasi
disebut filtration slits (pori-pori
dari celah) yang lebarnya sekitar 25nm. Setiap pori-pori dilapisi selapis
membrane tipis yang memungkinkan aliran beberapa molekul dan menahan aliran
molekul lainnya. Barier filtrasi glomerular adalah barier yang memisahkan darah
dalam kapiler glomerular dari ruang dalam kapsul bowman. Barier ini terdiri
dari endothelium kapiler, membrane dasar (lamina basalis) kapiler, dan
filtration slit.
2) Tubulus
kontortus proksimal
Panjangnya
mencapai 15mm dan sangat berliku. Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus
ini terdapat sel-sel epithelial kuboid yang kaya akan mikrovilus dan memperluas
area permukaan lumen.
3) Ansa
henle
Tubulus
kontortus proksimal mengarah ketungkai desenden ansa henle yang masuk kedalam
medulla, membentuk lekukan tajam dan membalik ke atas membentuk tungkai asenden
ansa henle.
a) Nefron
korteks terletak dibagian terluar korteks. Nefron ini memiliki lekukan pendek
yang memanjang kesepertiga bagian atas medulla.
b) Nefron
jukstamedular terletak didekat medulla. Nefron ini memiliki lekukan panjang
yang menjulur kedalam piramida medulla.
4) Tubulus
kontortus distal juga sangat berliku, panjangnya sekitar 5mm dan membentuk
segmen terakhir nefron.
a) Disepanjang
jalurnya tubulus ini bersentuhan dengan dinding arteriol aferen. Bagian tubulus
yang bersentuhan dengan arteriol mengandung sel-sel termodifikasi yang disebut macula densa. Macula densa berfungsi
sebagai suatu kemoreseptor dan distimulasi oleh penurunan ion natrium.
b) Dinding
arteriol aferen yang bersebelahan dengan macula densa mengandung sel-sel otot
polos termodifikasi yang disebut sel jukstaglomerular. Sel ini distimulasi
melalui penurunan tekanan daran untuk memproduksi urin.
c) Macula
densa, sel jukstaglomerular, dan sel mesangium saling bekerja sama untuk
membentuk sparatus jukstaglomerular yang penting dalam pengaturan tekanan
darah.
5) Tubulus
dan duktus pengumpul
Karena
setiap tubulus pengumpul berdesenden dikorteks, maka tbulus tersebut akan
mengalir kesejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus pengumpul membentuk
duktus pengumpul besar yang lurus. Duktus pengumpul membentuk tuba yang lebih
besar yang mengalirkan urin ke dalam kaliks minor. Kaliks minor bermuara kedalam
pelvis renalis melalui kaliks mayor. Dari pelvis ginjal, urin dialirkan keuretr
menuju kandung kemih.
f. Suplai
darah
1) Arteri
renalis setelah percabangan aorta abdomen yang mensuplai masing-masing ginjal
dan masuk kehilus melalui cabang anterior dan posterior.
2) Cabang
arterior dan posterior arteri renalis membentuk arteri-arteri interlobularis
yang mengalir diantara piramida ginjal.
3) Arteri
arkuata berasal dari arteri interlobularis pada area pertemuan antara korteks
dan medulla
4) Arteri
interlobularis merupakan arteri arkuata disudut kanan dan melewati korteks
5) Arteriol
aferen berasal dari arteri interlobularis. Satu arteriol membentuk sekitar 50
kapiler yang membentuk glomerulus.
6) Arteriol
eferen meninggalkan setiap glimerulus dan membentuk jarring-jaring kapiler
lain, kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus proksimal dan distal untuk
member nutrient pada tubulus tersebut dan mengeluarkan zat-zat yang
direabsorbsinya.
a) Arteriol
eferen dari glomerulus nefron korteks memasuki jarring-jaring kapiler
peritubular yang mengelilingi tubulus kontortus distal dan proksimal pada
nefron tersebut.
b) Arteriol
eferen dan glomerulus pada nefron jukstaglomerular memiliki perpanjangan
pembuluh kapiler panjang yang lurus disebut vasa
recta yang berdesenden kedalam piramida medulla. Lekukan vasa recta
membentuk lengkung jepit yang melewati ansa henle. Lengkungan ini memungkinkan
terjadinya pertukaran zat antar ansa henle dan kapile serta memegang peranan
dalam konsentrasi urin.
7) Kapiler
peritubular mengalir kedalam vena korteks yang kemudian menyatu dan membentuk
vena interlobularis
8) Vena
arkuata menerima darah dari vena interlobularis. Vena arkuata bermuara kedalam
vena interlobaris yang bergabung untuk bermuara kedalam vena renalis. Vena ini
meninggalkan ginjal untuk bersatu dengan vena kava inferior.
2. Fisiologi
ginjal
a. Pengeluaran
zat sisa organik. Ginjal mengekskresi urea, asam urat, kreatinin, dan produk
penguraian hemoglobin dan hormone.
b. Pengaturan
konsentrasi ion-ion penting. Ginjal mengekskresi ion natrium, kalium, kalsium,
magnesium, sulfat dan fosfat. Ekskresi ion-ion ini seimbang dengan asupan dan
ekskresinya melalui rute lain, seperti pada saluran gastrointestinal dan kulit.
c. Pengaturan
keseimbangan asam basa tubuh. Ginjal mengendalikan ekskresi ion hydrogen
(H+), bicarbonate (HCO3) dan ammonium
(NH4+) serta memproduksi urine asam atau basa, bergantung pada kebutuhan tubuh.
d. Pengaturan
peoduksi sel darah merah. Ginjal melepasn eritropoetin, yang mengatur produksi
sel-sel darah merah dalam sumsum tulang.
e. Pengaturan
tekanan daran. Ginjal mengatur volume cairan yang esensial bagi pengaturan
tekanan darah dan juga memproduksi enzim rennin. Rennin adalah komponen penting
dalam mekanisme rennin-angiotensin-aldosteron, yang meningkatkan tekanan darah
dan retensi air.
f. Pengendalian
terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam amino darah. Ginjal,
melalui ekskresi glukosa dan asam amino berlebih, bertanggung jawab atas
konsentrasi nutrient dalam darah.
g. Pengeluaran
zat beracun. Ginjal mengeluarkan polutan, zat tambahan makanan, atau zat kimia
asing lain dari tubuh.
D. Pembentukan
urin
Ginjal
memproduksi urin yang mengandung zat sisa metabolik dan mengatur komposisi
cairan tubuh melalui tiga proses utama, yaitu filtrasi glomerulus, reabsorbsi
glomerulus dan sekresi tubulus.
1. Filtrasi
glomerulus
a Definisi
Filtrasi glomerulus
Filtrasi
glomerulus merupakan perpindahan cairan dan zat terlarut dari kapiler
glomerulus, dalam gradient tekanan tertentu kedalam kapsul bowman. Filtrasi ini
dibantu oleh factor berikut:
1) Membrane
kapiler glomerulus lebih permeable dibandingkan kapiler lain dalam tubuh
sehingga filtrasi berjalan dengan sangat cepat.
2) Tekanan
darah dalam kapiler glomerulus lebih tinggi dibandingkan tekanan darah dalam
kapikler lain karena diameter arteriol eferen lebih kecil dibandingkan diameter
arteriol aferen.
b Mekanisme
filtrasi glomerulus
1) Tekanan
hidrostatik (darah) glomerulus mendrong cairan dan zat terlarut keluar dari
darah dan masuk keluar kapsul bowman.
2) Dua
tekanan yang berlawanan dengan tekanan hidrostatikglomerulus. Tekanan hidrostatik
dihasilkan oleh cairan dalam kapsul bowman. Tekanan ini cenderung untuk
menggerakkan cairan keluar dari kapsul menuju glomerulus. Tekanan osmotik
koloid dalam glomerulus yang dihasilkan oleh protein plasma adalah tekanan yang
menarik cairan dari kapsul bowman untuk memasuki glomerulus.
3) Tekanan
filtrasi efektif adalah tekanan dorong netto. Tekanan ini adalah tekanan
selisih antara tekanan yang cenderung mendorong cairan yang keluar glomerulus
menuju kapsul bowman dan tekanan yang cenderung menggerakkan cairan ke dalam
glomerulus dari kapsul bowman.
c Laju
filtrasi glomerulus (GFR)
Merupakan
jumlah filtrasi yang terbentuk permenit pada semua nefron dari kedua ginjal.
Pada laki-laki, laju filtrasi ini sekitar 125ml/menit atau 180 l dalam 24 jam.
Sedangkan pada perempuan sekitar 110ml/menit.
d Factor
yang mempengaruhi GFR
1) Tekanan
filtrasi efektif. GFR berbanding lurus dengan EFP dan perubahan tekanan yang
terjadi akan mempengaruhi GFR. Derajat konsentrasi arteriol aferan dan eferen
menentukan aliran darah ginjal, dan juga tekanan hidrostatik glomerulus.
Konstriksi arteriol aferan akan menurunkan aliran darah dan mengurangi laju
filtrasi glomerulus. Sedangkan kinstriksi arteriol eferen menyebabkan
terjadinya tekanan darah tambahan dalam glomerulus dan meningkatkan GFR.
2) Autoregulasi
ginjal. Mekanisme autoregulasi intrinsic ginjal mencegah perubahan aliran darah
ginjal dan GFR akibat variasi fisiologis rerata tekanan darah arteri.
3) Stimulasi
simpatis. Suatu peningkatan impuls simpatis, seperti yang terjadi saat stress
akan menyebabkan konstriksi arteriol aferen, menurunkan aliran darah kedaran
glomerulus dan terjadi penurunan GFR.
4) Obstruksi
aliran urinaria. Oleh batu ginjal atau batu ureter akan meningkatkan tekanan
hidrostatik dalam kapsul bowman dan menurunkan GFR.
5) Kelaparan,
diet sangat dendah protein, atau penyakit hati akan menurunkan tekanan osmotik koloid
darah sehingga meningkatkan GFR.
6) Berbagai
penyakit ginjal dapat meningkatkan permeabilitas kapiler glomerulus dan
meningkatkan GFR.
e Komposisi
filtrasi glomerulus
1) Filtrasi
dalam kapsul bowman identik dengan filtrasi plasma dalam hal air dan zat
terlarut dengan berat molekul rendah, seperti glukosa, klorida, natrium,
kalium, fosfat, urea, asam urat dan kreatinin.
2) Sejumlah
kecil albumin plasma dapat terfiltrasi, tetapi sebagian besar diabsorbsi
kembali dan secara normal tidak tampak pada urin.
3) Sel
darah merah dan protein tidan difiltrasi. Penampakannya dalam urin menandakan
suatu abnormalitas, penampakan sel darah putih biasanya menandakan infeksi
bakteri pada traktus urinarius bagian bawah.
2. Reabsorbsi
tubulus
Sbagian
besar reabsorbsi (99%) secara selektif direabsorbsi dalam tubulus ginjal
melalui difusi pasif gradient kimia atau listrik, transport aktif terhadap
gradient tersebut, atau difusi tranfasilitasi. Sekitar 85% natrium clorida dan
air serta semua glukosa dan asam amino pada filtrasi glomerulus diabsorbsi
dalam tubulus kontortus proksimal, walaupun reabsorbsi berlangsung pada semua
bagian nefron.
a. Reabsorbsi
ion natrium
1) Ion
natrium ditransfor secara pasif melalui difusi tranfasilitasi dari tubulus proksimal kedalam sel-sel
tubulus yang konsentrasi ion natriumnya lebih rendah
2) Ion-ion
natrium yang ditransfor secara aktif dengan pompa natrium-kalium, akan keluar
dari sel-sel epitel untuk masuk kecairan interstisial didekat kapiler
peritubular.
b. Reabsorbsi
ion klor dan ion negative lain
1) Karena
ion natrium positif bergerak secara pasif dari cairan tubulus ke sel dan secara
aktif dari sel ke cairan intertisial peritubular, akan terbentuk ketidak
seimbangan listrik yang justru membantu pergerakan pasif ion-ion negative.
2) Dengan
demikian, ion klor dan bikarbonat negative secara pasif berdifusi ke dalam
sel-sel epitel dari lumen dan mengikuti pergerakan natrium yang keluar menuju
cairan peritubuler dan kapiler tubular.
c. Reabsorbsi
glukosa, fruktosa, dan asam amino
1) Carier
glukosa dan asam amino sama dengan carier ion natrium dan digerakkan melalui
kotransfor
2) Maksimum
transport. Carier pada membrane sel tubulus memiliki kapasitas reabsorbsi
maksimum untuk glukosa, bergbagai jenis asam amino, dan beberapa zat
terabsorbsi lainnya. Jumlah ini dinyatakan dalam maksimum transport.
3) Maksimum
transport untuk glukosa adalah jumlah maksimum yang dapat ditranspor
(reabsorbsi) permenit, yaitu sekitar 200mg glukosa /100ml plasma. Jika kadar
glukosa darah melebihi jumlah TM nya, berarti melewati ambang plasma ginjal
sehingga glukosa muncul di dalam urin (glukosuria).
d. Reabsorbsi
air
Air
bergerak bersama ion natrium melalui osmosis. Ion natrium berpindah dari area
berkonsentrasi tinggi dalam lumen tubulus proksimal kearea berkonsentrasi
rendah dalam cairan intertisial dan kapiler peritubular.
e. Reabsorbsi
urea
Seluruh
urea yang terbentuk setiap hari difiltrasi oleh glomerulus. Sekitar 50% urea
secara pasif direabsorbsi akibat gradient difusi yang terbentuk saat air
direabsorbsi. Dengan demikian, 50% urea yang difiltrasi akan diekskresi dalam
urin.
f. Reabsorbsi ion organic lain, seperti kalium,
kalsium, posfat, dan sulfat serta sejumlah ion organic melalui transport aktif.
3. Mekanisme
sekresi tubulus
Mekanisme
sekresi tubular adalah proses aktif yang memindahkan zat keluar dari darah
dalam kapiler peritubular melewati sel-sel peritubular menuju cairan tubular
untuk dikeluarkan dalam urin.
a. Zat-zat
seperti ion hydrogen, kalium dan ammonium, produk akhir metabolikkreatinin dan
asam hipurat serta obat-obatan tertentu (penisilin) secara aktif disekresi
kedalam tubulus.
b. Ion
hydrogen dan ammonium diganbti dengan ion natrium dalam tubulus distal dan
tubulus pengumpul. Sekresi tubular yang selektif terhadap ion hydrogen dan
ammonium membantu dalam pengaturan PH plasma dan keseimbangan asam basa cairan
tubuh.
c. Sekresi
tubular merupakan suatu mekanisme yang penting untuk mengeluarkan zat-zat kimia
asing atau tidak diinginkan.
E. Konsentrasi
urin dan mekanisme pengenceran
F. Karakteristik
urin
G. Ureter
Ureter
merupakan perpanjangan tubular berpasangan dan berotot dari pelvis renalis yang
merentang sampai kandung kemih.
1. Setiap
ureter panjangnya antara 25-30cm dan berdiameter 4-6mm. saluran ini menyemput
ditiga tempat. Dititik asal ureter pada pelvis renalis, dititik saat melewati
pinggiran pelvis, dan dititik pertemuan dengan kandung kemih. Batu ginjal dapat
tersangkut pada tiga area tersebut dan mengakibatkan nyeri yang disebut kolik
ginjal.
2. Dinding
ureter terdiri dari tiga lapisan jaringan; lapisan terluar lapisan fibrosa,
ditengah adalah muskularis longitudinal kearah dalam dan otot polos sirkuler
kearah luar, dan lapisan terdalam adalah epithelium mukosa yang mensekresi
selaput mucus pelindung.
3. Lapisan
otot memiliki aktivitas peristaltic intrinsic. Gelombang peristaltic
mengalirkan urin dari kandung kemih keluar tubuh.
H. Kandung
kemih (vesika urinaria)
Merupakan
organ muscular berongga yang berfungsi sebagai penyimpanan atau penampungan
sementara urin.
1. Lokasi.
Pada laki-laki kandung kemih terletak tepat dibelakang simpisis pubis dan
didepan rectum. Pada perempuan, kandung kemih terletak agak dibawah uterus
didepan vagina. Ukuran kandung kemih kira-kira sebesar kacang kenari dan
terletak dipelvis saat kosong, organ berbentuk seperti buah peer dan dapat
mencapai umbbilikus dalam rongga abdominopelvis ketika penuh berisi urin.
2. Struktur.
Kandung kemih ditopang dalam rongga pelvis dengan lipatan-lipatan peritoneum
dan kondensasi fasia.
a. Dinding,
kandung kemih terdiri dari 4 lapisan.
1) Serosa
adalah lapisan terluar. Lapisan ini merupakan perpanjangan lapisan peritoneal
rongga abdominopelvis dan hanya ada dibagian atas pelvis
2) Otot
detrusor merupakann lapisa tengah. Lapisan ini tersusun daari berkas-berkas
otot polos yang satu sama lain saling membentuk sudut. Ini untuk memastikan
bahwa saat berurinasi kandung kemih akan berkontraksi dengan serempak kesegala
arah.
3) Submukosa
adalah lapisan jaringan ikat yang terletak dibawah mukosa dan menghubungkannya
dengan muskularis.
4) Mukosa
merupakan lapisan terdalam. Lapisan ini membentuk rugae yang akan memipih dan
mengembang saat urin berakumulasi dalam kandung kemih.
b. Trigonum
adalah area halus, triangular dan relative tidak dapat berkembang yang terletak
secara internal dan bagian dasar kandung kemih. Sudut-sudutnya terbentuk dari
tiga lubang. Disudut asat trigonum, dua ureter bermuara dikandung kemih. Uretra
keluar dan kandung kemih berada diapeks trigonum.
I. Uretra
Mengalirkan
urin dari kandung kemih keluar tubuh.
a. Pada
laki-laki, uretra membawa cairan semen dan urin, tetapi tidak pada waktu
bersamaan. Uretra laki-laki panjangnya mencapai sekitar 20cm dan melalui
kelenjar prostat dan penis.
b. Uretra
pada perempuan berukuran pendek. Berkisar 3,75-4 cm. saluran ini menuju keluar
tubuh melalui orifisium uretra eksterna yang terletak pada vestibulum antara
klitoris dan mulut vagina.
c. Panjang
uretra laki-laki cenderung menghambat invasi bakteri kedalam kandung kemih yang
lebih sering terjadi pada perempuan.
J. Perkemihan
Bergantung
pada inervasi parasimpatis dan simpatis juga impuls saraf volunteer.
Pengeluaran urin membutuhkan kontraksi aktif otot detrusor.
a. Bagian
dari otot trigonum yang mengelilingi jalan keluar uretra berfungsi sebagai
sfingter uretra internal yang menjaga saluran tetap tertutup. Otot ini diinervasi
oleh saraf parasimpatis.
b. Sfingter
uretra eksterna terbentuk dari serabut otot rangka dari otot perineal tranversa
yang berada dibawah kendali volunter. Bagian dari pobokuksigeal pada otot
levator ani juga berkontribusi dalam pembentukan sfingter.
c. Refleks
berkemih.
K. Gangguan
system urinaria
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Anatomi sistem urinaria
Ditulis oleh Ana Nurkhasanah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kumpulandiagnosakeperawatan.blogspot.com/2015/05/anatomi-sistem-urinaria.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.Ditulis oleh Ana Nurkhasanah
Rating Blog 5 dari 5
0 comments:
Post a Comment