Anatomi sistem urinaria

Posted by Ana Nurkhasanah Wednesday, May 20, 2015 0 comments


A.  Pengertian
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).

B.  Komponen system urinaria
System urinaria terdiri dari dua ginjal yang memproduksi urin, dua ureter yang membawa urin menuju kandung kemih untuk penampungan sementara dan uretra yang mengalirkan urin keluar tubuh melalui orifisium uretra eksterna.
Gambar 1 sistem urinaria


C.  Ginjal
1.      Anatomi ginjal
a.       Bentuk ginjal

Gambar 2 penampang ginjal

Ginjal adalah organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya sekitar 12,5 cm (kurang lebih seberar kepalan tangan). Setiap ginjal memiliki berat antara 125-175 g pada laki-laki dan 115-155 g pada perempuan.
b.      Lokasi
Ginjal terletak diarea yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang berdekatan dengan dua pasang iga terakhir. Ginjal merupakan organ retroperitoneal karena terletak diluar peritoneum dan berada diantara otot-otot punggung dan peritoneum rongga abdomen atas. Tiap-tiap ginjal memiliki sebuah kelenjar adrenal diatasnya. Ginjal kanan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan ginjal kiri karena pada sisi kanan tubuh terdapat organ hati.
c.       Jaringan ikat pembungkus ginjal
Setiap ginjal diselubungi oleh tiga lapisan jaringan ikat, yaitu:
1)   Fasia renalis adalah pembungkus ginjal terluar. Pembungkus ini melabuhkan ginjal pada struktur disekitarnya dan mempertahankan posisi organ.
2)   Lemak perirenal adalah jaringan adipose yang terbungkus fasia renalis. Jaringan ini membantali ginjal dan membantu ginjal agar tetap pada posisinya.
3)   Kapsul fibrosa (ginjal) adalah membrane halus transparan yang langsung membungkus ginjal dan dapat dengan mudah dilepas.
d.      Struktur internal ginjal

Gambar 3 potongan ginjal

1)   Hilus tingkat kecekungan tepi pada ginjal
2)   Sinus ginjal adalah rongga berisi lemak yang membuka pada hilus. Sinus ini membentuk perlekatan untuk jalan masuk dan keluar ureter, vena dan arteri renalism serta saraf dan limfatik.
3)   Pelvis renalis adalah perluasan ujung proksimal ureter. Ujung ini berlanjut menjadi dua sampai tiga kaliks mayor, yaitu rongga yang mencapai glandular, bagian penghasil urin pada ginjal. Setiap kaliks mayor bercabang menjadi 8-18 kaliks minor.
4)   Parenkim ginjal adalah jaringan ginjal yang menyelubungi struktur sinus ginjal. Jaringan ini terbagi menjadi dua yaitu medulla dan korteks.
a)    Medulla terdiri dari massa-massa triangular (berbentuk segitiga) yang disebut piramida renalis. Ujung yang sempit dari setiap piramida, papilla, masuk dengan pas dengan kaliks minor dan ditembus mulut duktus pengumpul urin.
b)   Korteks tersusun dari tubulus dan pembuluh darah nefron yang merupakan unit structural dan fungsional ginjal. Korteks terletak didalam diantara piramida-piramida medulla yang bersebelahan untuk membentuk kolunma renalis yang terdiri dari tubulus-tubulus pengumpul yang mengalir kedalah duktus pengumpul.
5)   Lobus ginjal, ginjal terbagi-bagi lagi menjadi beberapa lobus. Setiap lobus terdiri dari satu piramida ginjal, kolumna yang saling berdekatan dan jaringan korteks yang melapisinya.
e.       Struktur nefron


Gambar 4 struktur nefron

Satu ginjal mengandung 1-4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urin. Setiap nefron memiliki satu komponen vaskuler (kapiler) dan satu komponen tubuler.
1)   Glomerulus adalah gulungan gulungan kapiler yang dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda disebut kapsula bowman. Glomerulus dan kapsul bowman bersama-sama menbentuk kospuskel ginjal.
a)    Lapisan visceral kapsul bowman adalah lapisan internal epithelium. Sel-sel lapisan visceral dimodifikasi menjadi podosit (sel seperti kaki) yaitu sel-sel epitel khusus disekitar kapiler glomerular. Setiap sel podosit melekat pada permukaan luar kapiler glomerular melalui beberapa prosesus promer panjang yang mengandung prosesus sekunder yang disebut prosesus kaki atau pedikel (kaki kecil). Pedikel berinterdigitasi (saling mengunci) dengan prosesus yang sama dari podosit tetangga. Ruang sempit antar pedikel-pedikel yang berinterdigitasi disebut filtration slits (pori-pori dari celah) yang lebarnya sekitar 25nm. Setiap pori-pori dilapisi selapis membrane tipis yang memungkinkan aliran beberapa molekul dan menahan aliran molekul lainnya. Barier filtrasi glomerular adalah barier yang memisahkan darah dalam kapiler glomerular dari ruang dalam kapsul bowman. Barier ini terdiri dari endothelium kapiler, membrane dasar (lamina basalis) kapiler, dan filtration slit.
2)   Tubulus kontortus proksimal
Panjangnya mencapai 15mm dan sangat berliku. Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epithelial kuboid yang kaya akan mikrovilus dan memperluas area permukaan lumen.
3)   Ansa henle
Tubulus kontortus proksimal mengarah ketungkai desenden ansa henle yang masuk kedalam medulla, membentuk lekukan tajam dan membalik ke atas membentuk tungkai asenden ansa henle.
a)    Nefron korteks terletak dibagian terluar korteks. Nefron ini memiliki lekukan pendek yang memanjang kesepertiga bagian atas medulla.
b)   Nefron jukstamedular terletak didekat medulla. Nefron ini memiliki lekukan panjang yang menjulur kedalam piramida medulla.
4)   Tubulus kontortus distal juga sangat berliku, panjangnya sekitar 5mm dan membentuk segmen terakhir nefron.
a)    Disepanjang jalurnya tubulus ini bersentuhan dengan dinding arteriol aferen. Bagian tubulus yang bersentuhan dengan arteriol mengandung sel-sel termodifikasi yang disebut macula densa. Macula densa berfungsi sebagai suatu kemoreseptor dan distimulasi oleh penurunan ion natrium.
b)   Dinding arteriol aferen yang bersebelahan dengan macula densa mengandung sel-sel otot polos termodifikasi yang disebut sel jukstaglomerular. Sel ini distimulasi melalui penurunan tekanan daran untuk memproduksi urin.
c)    Macula densa, sel jukstaglomerular, dan sel mesangium saling bekerja sama untuk membentuk sparatus jukstaglomerular yang penting dalam pengaturan tekanan darah.
5)   Tubulus dan duktus pengumpul
Karena setiap tubulus pengumpul berdesenden dikorteks, maka tbulus tersebut akan mengalir kesejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus pengumpul membentuk duktus pengumpul besar yang lurus. Duktus pengumpul membentuk tuba yang lebih besar yang mengalirkan urin ke dalam kaliks minor. Kaliks minor bermuara kedalam pelvis renalis melalui kaliks mayor. Dari pelvis ginjal, urin dialirkan keuretr menuju kandung kemih.
f.       Suplai darah
1)   Arteri renalis setelah percabangan aorta abdomen yang mensuplai masing-masing ginjal dan masuk kehilus melalui cabang anterior dan posterior.
2)   Cabang arterior dan posterior arteri renalis membentuk arteri-arteri interlobularis yang mengalir diantara piramida ginjal.
3)   Arteri arkuata berasal dari arteri interlobularis pada area pertemuan antara korteks dan medulla
4)   Arteri interlobularis merupakan arteri arkuata disudut kanan dan melewati korteks
5)   Arteriol aferen berasal dari arteri interlobularis. Satu arteriol membentuk sekitar 50 kapiler yang membentuk glomerulus.
6)   Arteriol eferen meninggalkan setiap glimerulus dan membentuk jarring-jaring kapiler lain, kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus proksimal dan distal untuk member nutrient pada tubulus tersebut dan mengeluarkan zat-zat yang direabsorbsinya.
a)    Arteriol eferen dari glomerulus nefron korteks memasuki jarring-jaring kapiler peritubular yang mengelilingi tubulus kontortus distal dan proksimal pada nefron tersebut.
b)   Arteriol eferen dan glomerulus pada nefron jukstaglomerular memiliki perpanjangan pembuluh kapiler panjang yang lurus disebut vasa recta yang berdesenden kedalam piramida medulla. Lekukan vasa recta membentuk lengkung jepit yang melewati ansa henle. Lengkungan ini memungkinkan terjadinya pertukaran zat antar ansa henle dan kapile serta memegang peranan dalam konsentrasi urin.
7)   Kapiler peritubular mengalir kedalam vena korteks yang kemudian menyatu dan membentuk vena interlobularis
8)   Vena arkuata menerima darah dari vena interlobularis. Vena arkuata bermuara kedalam vena interlobaris yang bergabung untuk bermuara kedalam vena renalis. Vena ini meninggalkan ginjal untuk bersatu dengan vena kava inferior.

2.    Fisiologi ginjal
a.    Pengeluaran zat sisa organik. Ginjal mengekskresi urea, asam urat, kreatinin, dan produk penguraian hemoglobin dan hormone.
b.    Pengaturan konsentrasi ion-ion penting. Ginjal mengekskresi ion natrium, kalium, kalsium, magnesium, sulfat dan fosfat. Ekskresi ion-ion ini seimbang dengan asupan dan ekskresinya melalui rute lain, seperti pada saluran gastrointestinal dan kulit.
c.    Pengaturan keseimbangan asam basa tubuh. Ginjal mengendalikan ekskresi ion hydrogen (H+),  bicarbonate (HCO3) dan ammonium (NH4+) serta memproduksi urine asam atau basa, bergantung pada kebutuhan tubuh.
d.   Pengaturan peoduksi sel darah merah. Ginjal melepasn eritropoetin, yang mengatur produksi sel-sel darah merah dalam sumsum tulang.
e.    Pengaturan tekanan daran. Ginjal mengatur volume cairan yang esensial bagi pengaturan tekanan darah dan juga memproduksi enzim rennin. Rennin adalah komponen penting dalam mekanisme rennin-angiotensin-aldosteron, yang meningkatkan tekanan darah dan retensi air.
f.     Pengendalian terbatas terhadap konsentrasi glukosa darah dan asam amino darah. Ginjal, melalui ekskresi glukosa dan asam amino berlebih, bertanggung jawab atas konsentrasi nutrient dalam darah.
g.    Pengeluaran zat beracun. Ginjal mengeluarkan polutan, zat tambahan makanan, atau zat kimia asing lain dari tubuh.

D.  Pembentukan urin
Ginjal memproduksi urin yang mengandung zat sisa metabolik dan mengatur komposisi cairan tubuh melalui tiga proses utama, yaitu filtrasi glomerulus, reabsorbsi glomerulus dan sekresi tubulus.
1.    Filtrasi glomerulus
a      Definisi Filtrasi glomerulus
Filtrasi glomerulus merupakan perpindahan cairan dan zat terlarut dari kapiler glomerulus, dalam gradient tekanan tertentu kedalam kapsul bowman. Filtrasi ini dibantu oleh factor berikut:
1)   Membrane kapiler glomerulus lebih permeable dibandingkan kapiler lain dalam tubuh sehingga filtrasi berjalan dengan sangat cepat.
2)   Tekanan darah dalam kapiler glomerulus lebih tinggi dibandingkan tekanan darah dalam kapikler lain karena diameter arteriol eferen lebih kecil dibandingkan diameter arteriol aferen.
b      Mekanisme filtrasi glomerulus
1)   Tekanan hidrostatik (darah) glomerulus mendrong cairan dan zat terlarut keluar dari darah dan masuk keluar kapsul bowman.
2)   Dua tekanan yang berlawanan dengan tekanan hidrostatikglomerulus. Tekanan hidrostatik dihasilkan oleh cairan dalam kapsul bowman. Tekanan ini cenderung untuk menggerakkan cairan keluar dari kapsul menuju glomerulus. Tekanan osmotik koloid dalam glomerulus yang dihasilkan oleh protein plasma adalah tekanan yang menarik cairan dari kapsul bowman untuk memasuki glomerulus.
3)   Tekanan filtrasi efektif adalah tekanan dorong netto. Tekanan ini adalah tekanan selisih antara tekanan yang cenderung mendorong cairan yang keluar glomerulus menuju kapsul bowman dan tekanan yang cenderung menggerakkan cairan ke dalam glomerulus dari kapsul bowman.
c      Laju filtrasi glomerulus (GFR)
Merupakan jumlah filtrasi yang terbentuk permenit pada semua nefron dari kedua ginjal. Pada laki-laki, laju filtrasi ini sekitar 125ml/menit atau 180 l dalam 24 jam. Sedangkan pada perempuan sekitar 110ml/menit.
d     Factor yang mempengaruhi GFR
1)   Tekanan filtrasi efektif. GFR berbanding lurus dengan EFP dan perubahan tekanan yang terjadi akan mempengaruhi GFR. Derajat konsentrasi arteriol aferan dan eferen menentukan aliran darah ginjal, dan juga tekanan hidrostatik glomerulus. Konstriksi arteriol aferan akan menurunkan aliran darah dan mengurangi laju filtrasi glomerulus. Sedangkan kinstriksi arteriol eferen menyebabkan terjadinya tekanan darah tambahan dalam glomerulus dan meningkatkan GFR.
2)   Autoregulasi ginjal. Mekanisme autoregulasi intrinsic ginjal mencegah perubahan aliran darah ginjal dan GFR akibat variasi fisiologis rerata tekanan darah arteri.
3)   Stimulasi simpatis. Suatu peningkatan impuls simpatis, seperti yang terjadi saat stress akan menyebabkan konstriksi arteriol aferen, menurunkan aliran darah kedaran glomerulus dan terjadi penurunan GFR.
4)   Obstruksi aliran urinaria. Oleh batu ginjal atau batu ureter akan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam kapsul bowman dan menurunkan GFR.
5)   Kelaparan, diet sangat dendah protein, atau penyakit hati akan menurunkan tekanan osmotik koloid darah sehingga meningkatkan GFR.
6)   Berbagai penyakit ginjal dapat meningkatkan permeabilitas kapiler glomerulus dan meningkatkan GFR.
e      Komposisi filtrasi glomerulus
1)   Filtrasi dalam kapsul bowman identik dengan filtrasi plasma dalam hal air dan zat terlarut dengan berat molekul rendah, seperti glukosa, klorida, natrium, kalium, fosfat, urea, asam urat dan kreatinin.
2)   Sejumlah kecil albumin plasma dapat terfiltrasi, tetapi sebagian besar diabsorbsi kembali dan secara normal tidak tampak pada urin.
3)   Sel darah merah dan protein tidan difiltrasi. Penampakannya dalam urin menandakan suatu abnormalitas, penampakan sel darah putih biasanya menandakan infeksi bakteri pada traktus urinarius bagian bawah.
2.    Reabsorbsi tubulus
Sbagian besar reabsorbsi (99%) secara selektif direabsorbsi dalam tubulus ginjal melalui difusi pasif gradient kimia atau listrik, transport aktif terhadap gradient tersebut, atau difusi tranfasilitasi. Sekitar 85% natrium clorida dan air serta semua glukosa dan asam amino pada filtrasi glomerulus diabsorbsi dalam tubulus kontortus proksimal, walaupun reabsorbsi berlangsung pada semua bagian nefron.
a.    Reabsorbsi ion natrium
1)   Ion natrium ditransfor secara pasif melalui difusi tranfasilitasi  dari tubulus proksimal kedalam sel-sel tubulus yang konsentrasi ion natriumnya lebih rendah
2)   Ion-ion natrium yang ditransfor secara aktif dengan pompa natrium-kalium, akan keluar dari sel-sel epitel untuk masuk kecairan interstisial didekat kapiler peritubular.
b.    Reabsorbsi ion klor dan ion negative lain
1)   Karena ion natrium positif bergerak secara pasif dari cairan tubulus ke sel dan secara aktif dari sel ke cairan intertisial peritubular, akan terbentuk ketidak seimbangan listrik yang justru membantu pergerakan pasif ion-ion negative.
2)   Dengan demikian, ion klor dan bikarbonat negative secara pasif berdifusi ke dalam sel-sel epitel dari lumen dan mengikuti pergerakan natrium yang keluar menuju cairan peritubuler dan kapiler tubular.
c.    Reabsorbsi glukosa, fruktosa, dan asam amino
1)   Carier glukosa dan asam amino sama dengan carier ion natrium dan digerakkan melalui kotransfor
2)   Maksimum transport. Carier pada membrane sel tubulus memiliki kapasitas reabsorbsi maksimum untuk glukosa, bergbagai jenis asam amino, dan beberapa zat terabsorbsi lainnya. Jumlah ini dinyatakan dalam maksimum transport.
3)   Maksimum transport untuk glukosa adalah jumlah maksimum yang dapat ditranspor (reabsorbsi) permenit, yaitu sekitar 200mg glukosa /100ml plasma. Jika kadar glukosa darah melebihi jumlah TM nya, berarti melewati ambang plasma ginjal sehingga glukosa muncul di dalam urin (glukosuria).
d.   Reabsorbsi air
Air bergerak bersama ion natrium melalui osmosis. Ion natrium berpindah dari area berkonsentrasi tinggi dalam lumen tubulus proksimal kearea berkonsentrasi rendah dalam cairan intertisial dan kapiler peritubular.
e.    Reabsorbsi urea
Seluruh urea yang terbentuk setiap hari difiltrasi oleh glomerulus. Sekitar 50% urea secara pasif direabsorbsi akibat gradient difusi yang terbentuk saat air direabsorbsi. Dengan demikian, 50% urea yang difiltrasi akan diekskresi dalam urin.
f.       Reabsorbsi ion organic lain, seperti kalium, kalsium, posfat, dan sulfat serta sejumlah ion organic melalui transport aktif.

3.    Mekanisme sekresi tubulus
Mekanisme sekresi tubular adalah proses aktif yang memindahkan zat keluar dari darah dalam kapiler peritubular melewati sel-sel peritubular menuju cairan tubular untuk dikeluarkan dalam urin.
a.    Zat-zat seperti ion hydrogen, kalium dan ammonium, produk akhir metabolikkreatinin dan asam hipurat serta obat-obatan tertentu (penisilin) secara aktif disekresi kedalam tubulus.
b.    Ion hydrogen dan ammonium diganbti dengan ion natrium dalam tubulus distal dan tubulus pengumpul. Sekresi tubular yang selektif terhadap ion hydrogen dan ammonium membantu dalam pengaturan PH plasma dan keseimbangan asam basa cairan tubuh.
c.    Sekresi tubular merupakan suatu mekanisme yang penting untuk mengeluarkan zat-zat kimia asing atau tidak diinginkan.

E.   Konsentrasi urin dan mekanisme pengenceran
F.   Karakteristik urin
G.  Ureter
Ureter merupakan perpanjangan tubular berpasangan dan berotot dari pelvis renalis yang merentang sampai kandung kemih.
1.    Setiap ureter panjangnya antara 25-30cm dan berdiameter 4-6mm. saluran ini menyemput ditiga tempat. Dititik asal ureter pada pelvis renalis, dititik saat melewati pinggiran pelvis, dan dititik pertemuan dengan kandung kemih. Batu ginjal dapat tersangkut pada tiga area tersebut dan mengakibatkan nyeri yang disebut kolik ginjal.
2.    Dinding ureter terdiri dari tiga lapisan jaringan; lapisan terluar lapisan fibrosa, ditengah adalah muskularis longitudinal kearah dalam dan otot polos sirkuler kearah luar, dan lapisan terdalam adalah epithelium mukosa yang mensekresi selaput mucus pelindung.
3.    Lapisan otot memiliki aktivitas peristaltic intrinsic. Gelombang peristaltic mengalirkan urin dari kandung kemih keluar tubuh.
H.  Kandung kemih (vesika urinaria)
Merupakan organ muscular berongga yang berfungsi sebagai penyimpanan atau penampungan sementara urin.
1.    Lokasi. Pada laki-laki kandung kemih terletak tepat dibelakang simpisis pubis dan didepan rectum. Pada perempuan, kandung kemih terletak agak dibawah uterus didepan vagina. Ukuran kandung kemih kira-kira sebesar kacang kenari dan terletak dipelvis saat kosong, organ berbentuk seperti buah peer dan dapat mencapai umbbilikus dalam rongga abdominopelvis ketika penuh berisi urin.
2.    Struktur. Kandung kemih ditopang dalam rongga pelvis dengan lipatan-lipatan peritoneum dan kondensasi fasia.
a.    Dinding, kandung kemih terdiri dari 4 lapisan.
1)   Serosa adalah lapisan terluar. Lapisan ini merupakan perpanjangan lapisan peritoneal rongga abdominopelvis dan hanya ada dibagian atas pelvis
2)   Otot detrusor merupakann lapisa tengah. Lapisan ini tersusun daari berkas-berkas otot polos yang satu sama lain saling membentuk sudut. Ini untuk memastikan bahwa saat berurinasi kandung kemih akan berkontraksi dengan serempak kesegala arah.
3)   Submukosa adalah lapisan jaringan ikat yang terletak dibawah mukosa dan menghubungkannya dengan muskularis.
4)   Mukosa merupakan lapisan terdalam. Lapisan ini membentuk rugae yang akan memipih dan mengembang saat urin berakumulasi dalam kandung kemih.
b.    Trigonum adalah area halus, triangular dan relative tidak dapat berkembang yang terletak secara internal dan bagian dasar kandung kemih. Sudut-sudutnya terbentuk dari tiga lubang. Disudut asat trigonum, dua ureter bermuara dikandung kemih. Uretra keluar dan kandung kemih berada diapeks trigonum.
I.     Uretra
Mengalirkan urin dari kandung kemih keluar tubuh.
a.    Pada laki-laki, uretra membawa cairan semen dan urin, tetapi tidak pada waktu bersamaan. Uretra laki-laki panjangnya mencapai sekitar 20cm dan melalui kelenjar prostat dan penis.
b.    Uretra pada perempuan berukuran pendek. Berkisar 3,75-4 cm. saluran ini menuju keluar tubuh melalui orifisium uretra eksterna yang terletak pada vestibulum antara klitoris dan mulut vagina.
c.    Panjang uretra laki-laki cenderung menghambat invasi bakteri kedalam kandung kemih yang lebih sering terjadi pada perempuan.
J.     Perkemihan
Bergantung pada inervasi parasimpatis dan simpatis juga impuls saraf volunteer. Pengeluaran urin membutuhkan kontraksi aktif otot detrusor.
a.    Bagian dari otot trigonum yang mengelilingi jalan keluar uretra berfungsi sebagai sfingter uretra internal yang menjaga saluran tetap tertutup. Otot ini diinervasi oleh saraf parasimpatis.
b.    Sfingter uretra eksterna terbentuk dari serabut otot rangka dari otot perineal tranversa yang berada dibawah kendali volunter. Bagian dari pobokuksigeal pada otot levator ani juga berkontribusi dalam pembentukan sfingter.
c.    Refleks berkemih.


K.  Gangguan system urinaria
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SAUDARA
Judul: Anatomi sistem urinaria
Ditulis oleh Ana Nurkhasanah
Rating Blog 5 dari 5
Semoga artikel ini bermanfaat bagi saudara. Jika ingin mengutip, baik itu sebagian atau keseluruhan dari isi artikel ini harap menyertakan link dofollow ke https://kumpulandiagnosakeperawatan.blogspot.com/2015/05/anatomi-sistem-urinaria.html. Terima kasih sudah singgah membaca artikel ini.

0 comments:

Post a Comment

Cara Buat Email Di Google | Copyright of Kumpulan Diagnosa Keperawatan.